Search This Blog

Tuntunan Berpuasa Sunat dan Lailatul Qadar

 

[Tuntunan Berpuasa Sunat]

Cara yang paling afdhal (utama) bagi seseorang untuk mengerjakan puasa sunat adalah puasa sehari dan berbuka (tidak berpuasa) sehari jika dia tidak mengabaikan apa yang Allah wajibkan atasnya. Dalilnya:Abdullah ibn Amr berkata, "Aku akan berpuasa pada siang hari dan tidak berbuka, dan aku akan shalat pada malam hari dan tidak tidur." Lalu hal tersebut sampai kepada Nabi Muhammad saw Kemudian beliau menanyainya, "Apa benar kau yang mengatakan begini dan begitu?" Ia menjawab, "Ya." Maka beliau berkata kepadanya, "Puasalah begini, puasalah begitu." Ia berkata, "Aku mampu lebih dari itu." Hingga akhirnya beliau berkata kepadanya, "Puasalah sehari dan berbukalah sehari. Sebab yang demikian itu merupakan puasa yang paling afdhal, yaitu puasa Daud as.

Makruh hukumnya hanya mengkhususkan bulan Rajab untuk berpuasa, karena itu termasuk tradisi masyarakat lahiliya. Diharamkan juga berpuasa pada dua hari raya; karena Rasulullah saw "melarang berpuasa pada dua hari raya, yaitu hari raya Idul Fitri dan hari Idul Adha."

Haram berpuasa pada hari-hari Tasyritt: karena [adanya larangan dari] hadis yang dikeluarkan oleh Muslim dari Rasulullah saw:

"Hari Tasyriq adalah hari makan dan minum serta zikir kepada Allah Azza wa lalla.

Kecuali berpuasa sebagai ganti dam haji Tamattu' atatt Qiran. Dalilnya hadis 'A'isyah dan Ibn'Umar bahwa mereka berdua berkata, "Tidak diizinkan berpuasa pada hari-hari Tasyriq kecuali bagi orang yang tidak mendapatkan hewan sembelihan (dam).'

Siapa yang masuk ke dalam satu ibadah yang luas waktunya seperti shalat atau puasa maka diharamkan baginya memutusnya [baca: tiba-tiba membatalkannya] kecuali karena ada uzur syar'i,

Apabila waktu yang tersisa hanya sedikit -artinya waktunya sudah sempit-, maka tentu lebih diharamkan lagi memutusnya. Namun hal tersebut tidak berlaku dalam ibadah sunat; karena hadis yang diriwayatkan Muslim [menyebutkan] bahwa pada suatu hari Nabi Muhammad saw masuk ke tempat keluarganya. Lalu beliau berkata, "Apakah kalian memiliki sesuatu?." Mereka berkata, 'Ya, kami memiliki Beliau berkata, "Perlihatkanlah -beliau berkata kepada 'A'isyah- dari tadi pagi aku berpuasa." Lalu'A'isyah mengambilkannya. Kemudian beliau memakannya.

Akan tetapi, yang paling sempurna adalah tidak memutus ibadah sunat; karena ayat: "Dan

janganlah kamu merusak (pahala) amal amalmu." (QS. Muhammad[47]:33) dan karena sabda Rasulullah saw kepada Abdullah ibn umar, "Janganlah kau menjadi seperti si Fulan itu, tadinya dia shalat malam,lalu dia meninggalkan shalat malam.'jika beliau mengkritiknya karena meninggalkan shalat malam,lalu bagaimana halnya dengan orang yang memang sedang mengerjakan ibadah? Maka hendaknya janganlah ia memutusnya kecuali karena ada tujuan yang benar.

Perhatian: Seseorang tidak wajib mengganti ibadah sunat jika rusak, kecuali haji dan umrah; karena firman Allah swt: "Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah." (QS. Al Baqarah (2): 196)

Tidak diragukan lagi bahwa Lailatul qadar itu adanya pada bulan Ramadhan; karena firman Allah swt: "Bulan Ramadhan, yaitu bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran." (QS. Al-Baqarah [2]: 185) Dan firman-Nya pada ayat lain: "sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-quran) pada malam kemuliaan " (QS. Al-Qadr (97): 1) jika kedua ayat ini digabungkan, maka jelaslah hal tersebut bagi Anda.

Lailatul Qadar

1. S : Apakah Lailatul Qadar itu masih ada atau sudah "menghilang"?

| : ]awaban yang valid adalah Lailatul Qadar itu jelas masih ada, dan hadis yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad saw telah "melihatnya,,, kemudian beliau keluar untuk memberitahukannya kepada sahabat-sahabatnya, lalu ada dua orang bertengkar, lalu Lailatul Qadar itu pun "menghilang".Yang dimaksud "menghilang" adalah menghilangnya pengetahuan kapan persisnya [kejadiannya] pada tahun itu.

2. S : Kapan persisnya Lailatul Qadar itu?

I: Di dalam al-Qur'an tidak terdapat penjelasan kapan waktu Lailatul Qadar itu. Akan tetapi hadis-hadis menyebutkan bahwa Lailatul Qadar itu adanya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan; karena hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari bahwa Rasulullah saw pernah i'tikaf pada sepuluh hari pertama dari Ramadhan untuk mencari malam Lailatul Qadar. Kemudian beliau i'tikaf pada sepuluh hari pertengannya. Kemudian beliau diberitahu bahwa Lailatul Qadar itu ada pada sepuluh hari terakhir dan beliau bermimpi melihatnya serta melihat dirinya sujud pada subuhnya di air dan tanah basah. pada malam ke-21 Ramadhan, beliau i'tikaf. Lalu turun hujan dan atap mesjid bocor, dan atap mesjid Nabi Muhammad saw terbuat dari pelepah. Lalu beliau shalat subuh dengan sahabat-sahabatnya. Kemudian beliau sujud di atas tanah. Anas berkata, 'Maka aku melihat air dan tanah di kening beliau. Beliau sujud di air dan tanah."

Sementara para sahabat Nabi Muhammad saw bermimpi bahwa Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir. Lalu beliau berkata: Lailatul Qadar itu berpindah-pindah, Misalnya pada tahun ini ia jatuh pada malam ke dua puluh satu, sedangkan pada tahun berikutnya ia jatuh pada malam ke dua puluh tiga, begitulah seterusnya. Yang demikian itu hikmahnya supaya orang orang giat beribadah sepanjang sepuluh hari terakhir ini.

"Aku lihat mimpi kalian bersamaan pada tujuh hari terakhir ini. Maka siapa yang mencariny a, hendaklah dia mencarinya pada tujuh hari terakhir."

Berdasarkan ini, adanya Lailatul Qadar itu pada tujuh hari terakhir lebih besar harapan jika yang dimaksud dengan perkataan beliau'Aku lihat mimpi kalian' bukan khusus pada tahun itu.

S : Kenapa dinamakan Lailatul Qadar?

| : 1) Ada pendapat mengatakan karena pada malam itu ditetapkan (Yuqdar) apa yang terjadi pada tahun itu. Allah swf berfirman: "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." (QSAd- Dukhaan [4]:4)

2) Ada yang mengatakan karena malam itu malam yang mulia (Al- Qadr). Allah'Azza wa lalla berfirman: "Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr l97l:2-3)

3) Ada yang mengatakan karena ibadah pada malam itu memiliki nilai yang sangat besar; karena sabda Rasulullah swa "Siapa yang qiyamul lail pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, diampunkan dosa-dosanya yang lalu." {R. Al-Bukhari dan Muslim)

[Catatan Penting]

1. Malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir itu lebih dekat, dan ini tidak bermakna bahwa Lailatul Qadar itu hanya ada pada malam-malam ganjil.

2. Termasuk bid'ah mengkhususkan malam Lailatul Qadar dengan mengerjakan umrah.

3. Malam kedua puluh tujuh lebih kuat.

4. Pahala Lailatul Qadar itu tetap diraih oleh orang yang beribadah pada malam itu walaupun dia tidak tahu malam tersebut malam Lailatul Qadar.

5. Lailatul Qadar itu punya beberapa tanda:

1) Pada malam itu cuaca sangat cerah, dan tak ada yang merasakan hal ini kecuali orang yang jauh dari cahaya.

2) Pada malam itu lebih bercahaya.

3) Pada malam itu seorang mukmin merasakan ketenangan dan kelapangan dada melebihi yang dirasakannya pada malam-malam lainnya.

4) Angin bertiup perlahan.

5)Terkadang Allah swt memperlihatkan malam Lailatul Qadar itu kepada seseorang meialui mimplnya.

6) Pada malam itu seseorang merasakan kelezatan dalam beribadah jauh melebihi apa yang dirasakannya pada malam-malam lainnya.

7) Pada pagi harinya matahari terbit tidak bercahaya (redup), tidak seperti biasanya pada hari hari lain, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang termuat dalam Shahih muslim dari Ubay ibn Ka,ab ra: ..Rasulullah saw telah mengabarkan kepada kami bahwa matahari pada hari itu terbit tidak bercahaya.

 Tidak benar pendapat orang yang mengatakan bahwa pada malam ltu anjing anjing tidak menggonggong.

Pada malam itu hendaklah berdoa dengan doa yang termuat dalam Sunan at_Tirmidzi

-dan ia mengatakan hadis hasan shahih_:

[Allaahumma Innak Afiwun Tuhibbu al-Afwa fa'fu Anni]

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pema'af, menyukai kemaafan, maka ma'afkanlah aku

 

No comments:

Post a Comment